Media Suara Palu, PALU — Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako (FKM Untad) mendorong program Berani Magaya agar dapat berkembang menjadi program nasional sebagai bagian dari upaya mendukung target eliminasi tuberkulosis (TB) pada 2030.
Hal itu disampaikan Dekan FKM Untad, Prof. Dr. Rosmala Nur, S.KM., M.Si., di ruang rapat Dekan FKM Untad, Sabtu (26/9/2026).
“Saya berharap program-program andalan FKM itu, termasuk Berani Magaya ini, menjadi program nasional. Tolong didukung penuh,” ujar Prof. Rosmala.
Berani Magaya merupakan akronim dari “Bersama Bergerak, Berantas TB: Mahasiswa JaGa dan saYAng Keluarga.” Program tersebut bertujuan mendukung target eliminasi TB 2030, meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan, serta memutus mata rantai penularan infeksi TB, khususnya di lingkungan keluarga dan kontak erat pasien.
Program Berani Magaya resmi diluncurkan pada puncak Dies Natalis ke-9 FKM Untad, 22 Agustus 2026, di Auditorium Universitas Tadulako.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa diterjunkan untuk mendampingi pasien TB agar disiplin mengonsumsi obat hingga menyelesaikan pengobatan. Selain itu, mahasiswa juga mendampingi keluarga yang melakukan kontak erat dengan pasien untuk memastikan pencegahan dan pemantauan terhadap kemungkinan munculnya kasus baru.
Program tersebut pada tahap awal melibatkan 1.073 mahasiswa dan 155 orang pembimbing, dengan dukungan tujuh perguruan tinggi. Sasaran program tersebar di empat kabupaten, yakni Sigi, Poso, Tolitoli dan Parigi Moutong.
Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam program tersebut karena mereka tidak hanya berperan sebagai pendamping pasien, tetapi juga sebagai agen edukasi di tengah masyarakat.
Pendampingan dilakukan berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan. Selanjutnya, mahasiswa bekerja bersama Dinas Kesehatan, kepala Puskesmas, penanggung jawab program TB, serta tim kesehatan di wilayah sasaran.
Prof. Rosmala mengatakan, pendekatan tersebut diperlukan karena penanganan TB tidak cukup hanya dengan mengobati pasien yang telah teridentifikasi. Keluarga dan orang yang melakukan kontak erat juga perlu mendapat perhatian untuk mencegah munculnya kasus baru.
“Tujuannya adalah pertama mendampingi pasien TB, kemudian memutus rantai TB pada keluarga yang kontak erat dengan pasien,” jelasnya.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memberikan dampak nyata kepada masyarakat. Karena itu, keterlibatan FKM Untad dalam program penanggulangan TB menjadi bagian dari implementasi kampus yang berdampak melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Ia menambahkan, tantangan lain dalam penanggulangan TB adalah kepatuhan pasien menjalani pengobatan yang membutuhkan waktu cukup panjang. Edukasi dan pendampingan menjadi penting agar pasien tidak menghentikan pengobatan sebelum waktunya.
Selain itu, stigma di masyarakat terhadap pasien TB juga perlu diubah. TB bukan penyakit keturunan dan dapat disembuhkan apabila pasien menjalani pengobatan sesuai ketentuan.
Prof. Rosmala juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama ini komunikasi antara FKM Untad dan insan pers belum berjalan maksimal.
“Saya mohon maaf jika selama ini kami masih kurang berinteraksi dengan teman-teman,” katanya.
Ke depan, ia memastikan pihak FKM Untad akan membuka ruang komunikasi yang lebih luas dengan media dan kembali mengundang wartawan untuk meliput berbagai kegiatan kampus.
“Saya akan undang lagi teman-teman untuk terlibat dalam meliput seluruh kegiatan,” ujarnya.
Melalui Berani Magaya, FKM Untad berharap keterlibatan perguruan tinggi, mahasiswa, tenaga kesehatan, pemerintah, keluarga, masyarakat dan media dapat semakin diperkuat untuk mendukung upaya eliminasi TB di Sulawesi Tengah menuju target 2030.









