Padang To Langko Andalkan Kuda Liar Tarik Wisatawan

Seputar Sulteng335 Dilihat

Media Suara Palu, SIGI – Destinasi wisata Padang Tolangko di Desa Langko, Kec. Lindi, Kab. Sigi, Sulawesi Tengah mulai menjadi daya tarik baru bagi wisatawan berkat keberadaan puluhan kuda yang hidup bebas di hamparan padang alami. Kawasan seluas sekitar 5 hingga 6 hektare itu kini dipersiapkan untuk dikelola secara berkelanjutan oleh pemuda desa bersama pemerintah desa.

Bagian Wisatawan Panitia Festival Desa Lindu (FDL) 2026, Adrianus Balumba yang akrab disapa Pak Abri, mengatakan saat ini terdapat sekitar 70 hingga 80 ekor kuda yang dipelihara secara alami tanpa dikandangkan setiap hari. Kuda-kuda tersebut merupakan milik sekitar empat hingga lima warga Desa Langko yang membiarkannya hidup bebas di kawasan padang.

Menurutnya, keberadaan kuda liar tersebut menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana alam maupun mengabadikan momen dengan latar padang dan kawanan kuda.

“Tempat ini dibuka setiap hari, mulai Senin hingga Minggu. Tidak ada jadwal khusus bagi wisatawan yang ingin datang,” ujar Adrianus di Lokasi Padang To Langko 25 Juli 2026.

Ia memastikan kawasan wisata tersebut aman dikunjungi. Selama ini belum pernah terjadi insiden yang membahayakan pengunjung, sehingga wisatawan dapat menikmati pengalaman berwisata dengan nyaman.

Selama pelaksanaan Festival Desa Lindu 2026, panitia bertugas mendampingi wisatawan yang ingin berfoto maupun mencoba wisata berkuda. Setelah festival berakhir, pengelolaan kawasan akan dilanjutkan oleh kelompok pemuda desa yang akan dibentuk secara khusus.

Adrianus menjelaskan, pengelolaan oleh pemuda desa merupakan bagian dari upaya meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes) sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.

“Setelah festival selesai, pengelolaan wisata akan diarahkan melalui kerja sama antara pemuda desa dan pemerintah desa agar manfaatnya bisa dirasakan masyarakat,” katanya.

Ia berharap Padang To Langko dapat berkembang menjadi destinasi wisata unggulan yang dikelola secara profesional dan berkelanjutan. Namun hingga kini, pengembangan kawasan tersebut masih mengandalkan inisiatif masyarakat karena belum mendapat dukungan resmi dari pemerintah kabupaten maupun pemerintah provinsi.

“Kami berharap ada kerja sama dari pemerintah agar wisata ini bisa berkembang dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Desa Langko,” ujarnya.

Meski demikian, panitia Festival Desa Lindu belum menetapkan target pendapatan dari kunjungan wisata. Fokus utama saat ini masih pada pelayanan dan pendampingan wisatawan agar memperoleh pengalaman terbaik saat menikmati keindahan Padang Tolangko beserta kawanan kuda liarnya.

keunikan wisatawan kuda liar itu menjadi bagian dari Festival Danau Lindu di gelar 23-25 Juli 2026 dengan biaya masuk Rp.5.000/Motor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *