Palu- Di tengah hiruk pikuk kota yang terus bergerak, sekelompok jurnalis, musisi, dan anak-anak muda Palu memilih berhenti sejenak untuk menaruh perhatian pada luka yang terjadi jauh di seberang laut. Melalui kegiatan bertajuk Charity for Sumatera, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sulteng dan Bateman Production menggagas sebuah malam solidaritas, sebagai bentuk kepedulian terhadap korban bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.
Acara ini rencananya digelar pada 10 Desember 2020, pukul 20.00 WITA, di Pin Point Café. Sebuah ruang kecil di sudut kota, tetapi pada malam itu akan menjadi panggung besar bagi kemanusiaan. Ketua IJTI Sulteng, Rolis Muchlis, mengatakan kegiatan ini lahir dari dorongan hati untuk hadir bagi sesama yang sedang berduka. “Kami ingin menghadirkan ruang kepedulian bersama, sekaligus mengajak masyarakat Palu ikut membantu saudara-saudara kita di Sumatera,” ujarnya.
Sepuluh band lokal papan atas—Achi The Box, Nauda, Jaxien, Ourglad, Trezhil, Bay+Veyo, The Pinjols, Kereta Pekerti, Summerday, dan Season Candy—akan naik ke panggung bukan hanya untuk bernyanyi, tetapi juga berbagi. Mereka menyiapkan karya ciptaan sendiri untuk dilelang. Pada malam itu, lagu bukan sekadar lagu; ia menjadi jembatan antara para musisi dan para penyintas bencana yang mungkin tak pernah mereka temui, namun tetap mereka pedulikan.
Perwakilan Bateman Production, Steve Oy, menyebut kolaborasi ini sebagai wujud kecil dari semangat besar generasi muda Palu. “Kami ingin menjadikan acara ini bukan hanya hiburan, tetapi momentum solidaritas nyata,” katanya. Musik yang biasanya hadir sebagai hiburan kini berubah menjadi doa—doa yang dinyanyikan bersama, doa yang dilelang untuk mengumpulkan harapan baru bagi mereka yang kehilangan rumah dan masa depan.
Panitia berharap masyarakat Kota Palu datang bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari gerakan empati. Setiap kontribusi, sekecil apa pun, adalah tanda bahwa kemanusiaan masih hidup dan bergerak.
Charity for Sumatera terbuka untuk umum. Di tempat itu, di antara denting gitar dan cahaya panggung, Palu ingin mengirim pesan yang sederhana namun kuat: bahwa kesedihan di Sumatera adalah kesedihan kita bersama, dan tangan yang terulur dari Palu mungkin saja menjadi alasan seseorang di seberang sana dapat kembali berdiri.














