
PALU- Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram kembali menjadi persoalan klasik yang terus berulang setiap tahun, terutama menjelang dan saat bulan suci Ramadhan. Harga gas melon di tingkat masyarakat bahkan dilaporkan tembus hingga Rp60 ribu per tabung, kondisi yang sangat memberatkan warga kecil dan pelaku UMKM. Hal itu dikemukakan Anggota DPRD Kota Palu, Nurhalis Nur, kemarin, kamis 19/2/26.
Nurhalis, dari fraksi Partai Keadilan Sejahtera itu, menyoroti keras persoalan tersebut. Ia menyebut kelangkaan gas 3 kg sebagai “penyakit masyarakat” yang selalu terulang setiap tahun tanpa solusi konkret.

“Gas 3 kg ini kebutuhan dasar masyarakat. Bayangkan, tiba-tiba mau masak, gas habis, apalagi subuh saat mau masak sahur. Kasihan masyarakat kita,” tegas Nurhalis.
Ia juga menekankan bahwa sesuai aturan, ASN tidak diperbolehkan menggunakan gas 3 kg, karena subsidi tersebut diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu dan pelaku UMKM. Namun, di lapangan, pengawasan dinilai masih sangat lemah.
Tak hanya soal gas, Nurhalis juga menyinggung persoalan operasional klub malam dan tempat hiburan selama bulan Ramadhan. Menurutnya, perlu ada kebijakan tegas untuk menutup klub malam dan tempat hiburan sebagai bentuk penghormatan terhadap pelaksanaan ibadah puasa.
Ia mendorong agar fungsi pengawasan DPRD benar-benar dijalankan, baik terhadap distribusi gas 3 kg maupun pengawasan operasional klub malam selama Ramadhan.
“Fungsi pengawasan harus berjalan. Gas 3 kg ini harus tepat sasaran, dan klub malam juga harus diawasi bahkan ditutup selama Ramadhan demi menghargai umat Islam yang menjalankan ibadah puasa,” tegas Nurhalis dalam rapat paripurna di ruang sidang utama DPRD Kota Palu, Kamis (19/2/2026).
Nurhalis berharap pemerintah daerah dan instansi terkait tidak hanya bersikap reaktif, tetapi memiliki langkah konkret agar persoalan kelangkaan gas subsidi dan polemik hiburan malam tidak terus menjadi masalah tahunan di Kota Palu.














