Gebrakan Akhir Tahun, Akhiri Era “Birokrasi Siput” di Sulawesi Tengah

Editorial80 Dilihat

EDITORIAL
Ada yang berbeda di penghujung tahun 2025 ini. Jika biasanya akhir tahun diisi dengan tumpukan laporan yang dipoles agar terlihat indah, Gubernur Anwar Hafid justru memilih melakukan “operasi jantung” pada birokrasi Sulawesi Tengah.

Pelantikan puluhan pejabat Eselon II dan ribuan tenaga PPPK tepat di detik-detik pergantian tahun bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah proklamasi perang terhadap lambatnya kinerja masa lalu.

Gubernur secara eksplisit menyatakan bahwa “buku lama telah ditutup.” Pernyataan ini adalah tamparan sekaligus harapan.

Kita harus jujur, selama ini birokrasi kita seringkali terjebak dalam zona nyaman. Mutasi jabatan kerap dianggap sebagai bagi-bagi “kue” kekuasaan atau sekadar rotasi rutin tanpa esensi. Dampaknya? Program strategis macet di meja koordinasi, dan serapan anggaran baru menderu di menit-menit akhir.

Keputusan untuk tidak memberikan ruang bagi “seremoni berlebihan” dan menuntut kerja instan per 1 Januari adalah langkah yang sangat tepat dan harus didukung. Mengapa? Karena rakyat Sulawesi Tengah tidak punya waktu untuk menunggu pejabat baru beradaptasi atau sibuk menggelar syukuran jabatan.

Penempatan figur memberikan sinyal bahwa Gubernur tidak main-main dalam menata kualitas SDM. Ini adalah dukungan bagi profesionalisme di atas koneksi politik. Kita butuh “petarung” di jajaran kepala dinas, bukan sekadar administrator yang pandai duduk di belakang meja.

Dukungan kita terhadap kebijakan ini bukanlah cek kosong. Gubernur telah menetapkan standar tinggi: Integritas dan loyalitas adalah harga mati. Kita mengingatkan para pejabat yang baru dilantik—jangan sampai jabatan baru ini menjadi pintu masuk bagi praktik-praktik korup atau sekadar memperkaya kroni.

Publik akan mengawasi. Harus ada perubahan signifikan pada layanan publik atau percepatan infrastruktur, jika tidak, maka pelantikan besar-besaran ini hanyalah “ganti baju” tanpa ganti isi kepala.

Tantangannya sekarang: mampukah barisan pejabat baru ini menuliskan narasi kesejahteraan bagi rakyat Sulteng, ataukah mereka akan kembali mengulang coretan-coretan buruk yang sama?

Rakyat butuh bukti, bukan sekadar pelantikan yang bombastis di akhir tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *