Media Suara Palu, PALU– Menjelang senja, asap tipis mengepul dari sebuah tungku sederhana di depan Kantor Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Sulawesi Tengah, Jalan Towua, Kota Palu, Selasa (25/8/2026). Di atas bara kayu yang menyala, Ruheni dengan telaten memanggang dange, kudapan khas Kaili yang telah menjadi sumber penghidupannya selama hampir satu dekade.
Perempuan kelahiran 1965 itu tampak tak melayani pembeli yang datang. Dengan tangan terampil, ia membalik dange yang sedang dipanggang sambil sesekali menyapa orang yang melintas.
Sepintas, aktivitas itu terlihat biasa. Namun di balik setiap dange yang terjual, tersimpan kisah perjuangan hidup yang panjang dan mengharukan.
Ruheni berasal dari Desa Kola-Kola, Kabupaten Donggala. Sudah sekitar 10 tahun ia berjualan dange di Kota Palu. Bahkan jauh sebelum gempa bumi dan tsunami melanda Palu pada 2018, ia telah berjualan di kawasan Taman Ria, Talise.
Bencana besar itu mengubah banyak hal dalam hidup masyarakat Sulawesi Tengah. Namun bagi Ruheni, satu hal yang tidak berubah adalah kewajiban untuk tetap bekerja demi menyambung hidup.
Setiap hari ia berangkat dari rumah sekitar pukul 14.00 WITA menuju Kota Palu. Perjalanan pulang-pergi menghabiskan biaya sekitar Rp50 ribu. Setelah berjualan hingga malam, ia biasanya baru tiba kembali ke rumah sekitar pukul 22.00 WITA.
“Kalau tidak berangkat jualan, tidak ada pemasukan,” ujarnya pelan sambil terus menjaga api tungku.
Dange yang dijual Ruheni dibanderol Rp6 ribu per porsi. Kudapan tradisional khas Kaili itu memiliki beragam isian, mulai dari gula merah yang manis hingga ikan rono yang gurih dan menjadi favorit sebagian pelanggan.
Meski terlihat sederhana, usaha tersebut membutuhkan modal yang tidak sedikit. Ruheni mengaku harus menyiapkan modal lebih dari Rp100 ribu setiap kali berjualan.
Belum lagi kebutuhan kayu bakar untuk menjaga bara tungku tetap menyala. Jika membeli, satu ikat kayu bakar seharga sekitar Rp5 ribu. Namun demi menghemat biaya, terkadang ia memilih mencari sendiri kayu di hutan.
Hasil jualan yang diperoleh setiap hari tidak selalu besar. Bahkan menurutnya, uang yang terkumpul kadang habis untuk menutupi berbagai kebutuhan usaha dan biaya hidup.
Di balik perjuangannya mencari nafkah, Ruheni juga menyimpan luka yang tidak ringan. Ia merupakan ibu dari delapan anak. Namun takdir membuatnya harus kehilangan tiga di antaranya.
Kesedihan itu semakin bertambah setelah suaminya meninggal dunia.
Meski demikian, Ruheni memilih tetap tegar. Ia menjalani hari-harinya dengan bekerja dan berusaha tidak larut dalam kesedihan.
Ruheni biasanya berangkat bersama beberapa teman sesama pedagang. Dalam satu mobil terdapat sekitar delapan orang yang kemudian diturunkan di beberapa lokasi berbeda untuk berjualan.
Sesekali ia juga menerima bantuan sosial yang disalurkan melalui Kantor Pos. Namun bantuan tersebut tidak membuatnya bergantung. Baginya, bekerja tetap menjadi cara utama untuk bertahan hidup.
Ketika malam mulai turun dan kendaraan berlalu-lalang di Jalan Towua, bara api di tungku Ruheni masih menyala terang.
Satu per satu dange matang dan berpindah ke tangan pembeli. Nilainya mungkin hanya Rp6 ribu per porsi, tetapi bagi Ruheni, setiap dange yang terjual adalah harapan.
Harapan untuk membawa pulang rezeki ke rumah. Harapan untuk melanjutkan hidup setelah kehilangan orang-orang tercinta. Dan harapan agar esok hari ia masih memiliki kekuatan untuk kembali menyalakan api tungku yang telah menemaninya selama sepuluh tahun terakhir.
Di tengah hiruk-pikuk Kota Palu, kisah Ruheni menjadi pengingat bahwa di balik makanan tradisional yang sederhana, ada keteguhan seorang ibu yang terus berjuang melawan kerasnya kehidupan dengan sepotong dange dan bara api yang tak pernah padam.













