Kesetiaan, Utang, dan Cinta Bersemi di Panggung

Seputar Sulteng11 Dilihat

Media Suara Palu, PALU – Kesetiaan ternyata tidak selalu abadi. Bahkan, duka yang dipelihara dalam kesunyian selama setahun pun bisa runtuh oleh sebuah pertemuan tak terduga. Itulah paradoks cinta, kesetiaan, dan keberanian yang dihadirkan Sanggar Seni Bahana, FKIP Universitas Tadulako, melalui pementasan teater Penagih Utang karya Anton P. Chekhov.

Pementasan yang berlangsung di Islamic Center Palu, samping Kampus Universitas Tadulako, Sabtu (7/11/2026), menjadi bagian dari peringatan 26 tahun perjalanan Sanggar Seni Bahana.

Di atas panggung, Nindy Aulya tampil sebagai Nyonya Elena, seorang janda yang masih terkurung dalam ruang duka setelah ditinggal mati suaminya. Setahun berlalu, tetapi kesetiaannya seolah menjelma menjadi tembok yang memisahkannya dari dunia luar. Ia memilih mengurung diri, menjaga kenangan, dan membiarkan waktu berjalan tanpa kehadirannya.

Di rumah yang sunyi itu, hanya ada Riyanti, sang pelayan setia. Sosok yang bukan sekadar pembantu rumah tangga, melainkan saksi panjang kesedihan majikannya. Ia menemani Elena dalam hari-hari yang kehilangan warna.

Latar realisme menjadi pilihan artistik pementasan. Sebuah ruang tamu dengan potret mendiang suami yang terpajang menjadi simbol kehadiran masa lalu. Potret itu seakan menjadi penjaga kesetiaan sekaligus pengingat bahwa cinta pernah hidup di dalam rumah tersebut.

Di balik dinamika panggung, sutradara Asrullah meracik ketiga pelakon melalui pendekatan artistik bertajuk “Kalau Aku Jadi Dia”. Sebuah pendekatan yang mengajak setiap pemain tidak sekadar mengucapkan dialog atau menjalankan peran, tetapi menempatkan diri dalam pikiran, perasaan, dan situasi tokoh yang dimainkan.

Nindy Aulya sebagai Elena, Wahyu Hidayat sebagai Gavin, dan Riyanti sebagai pelayan dibangun dalam jalinan karakter yang saling menghidupkan. Ketiganya tidak berdiri sendiri, melainkan membentuk satu kesatuan emosi, konflik, dan respons manusiawi.

Pendekatan tersebut membuat pertengkaran Elena dan Gavin terasa bukan sekadar adu mulut, melainkan pertemuan dua watak yang sama-sama memiliki harga diri, ego, dan kerentanan. Sementara sang pelayan menjadi pengimbang, menyusup di antara ketegangan dengan respons yang menghidupkan suasana.

Namun, kesunyian itu mendadak pecah ketika seorang lelaki datang mengetuk pintu. Gavin, diperankan Wahyu Hidayat, hadir bukan membawa bunga atau kata-kata penghiburan, melainkan membawa urusan utang yang belum diselesaikan mendiang suami Elena.

Pertemuan itu kemudian menjelma menjadi perang kata-kata.

Gavin berhadapan dengan perempuan yang tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Sementara Elena, dengan segala harga diri dan keteguhannya, menolak tunduk pada desakan sang penagih utang. Dialog keduanya berlangsung tajam, penuh ketegangan, sekaligus menyimpan humor yang sesekali mengundang tawa penonton.

Riyanti pun beberapa kali menyela percakapan, menambah warna dalam pertarungan verbal tersebut. Kehadirannya menjadi jembatan antara ketegangan dua tokoh utama dan kelucuan yang tumbuh dari situasi.

Konflik semakin memuncak ketika dua pucuk pistol hadir di antara mereka. Benda yang semula menjadi lambang ancaman itu justru mengubah arah cerita. Tantangan Elena kepada Gavin tidak berakhir dengan pertumpahan darah, melainkan membuka pintu bagi sesuatu yang sama sekali tidak terduga.

Dari pertengkaran lahir ketertarikan. Dari ancaman tumbuh keberanian untuk saling mengenal. Dua manusia yang semula berdiri di kutub berlawanan perlahan menemukan sesuatu yang mempertemukan mereka: cinta.

Kesetiaan Elena kepada mendiang suaminya yang selama ini dijaga rapat akhirnya goyah. Rumah yang semula menjadi museum kenangan perlahan menemukan kemungkinan kehidupan baru.

Sementara Riyanti hanya bisa tersipu menyaksikan perubahan yang terjadi di hadapan matanya. Sebuah akhir yang menyisakan senyum sekaligus pertanyaan tentang batas antara kesetiaan, kehilangan, dan hak seseorang untuk kembali mencintai.

Selama kurang lebih satu jam, para pemain mampu menjaga perhatian penonton yang memadati ruangan Islamic Center Palu. Pementasan berlangsung dengan dinamika dialog, permainan emosi, dan situasi komikal yang membuat panggung tidak kehilangan denyutnya.

Lebih dari sekadar kisah seorang penagih utang yang jatuh cinta kepada janda yang didatanginya, Penagih Utang menghadirkan ironi kehidupan: bahwa cinta kadang tidak datang ketika seseorang mencarinya. Ia justru mengetuk pintu saat seseorang sedang berusaha mengunci hatinya rapat-rapat.

Di momentum 26 tahun Sanggar Seni Bahana, panggung itu menjadi pengingat bahwa teater bukan semata seni memainkan peran. Ia adalah ruang tempat manusia bercermin, menertawakan dirinya sendiri, merawat ingatan, dan mempertanyakan kembali makna kehidupan.

Sebab, di balik potret seorang suami yang telah tiada, ternyata masih ada hati yang hidup. Dan di balik seorang penagih utang, siapa sangka tersimpan kemungkinan menjadi penagih cinta.

Pemusik mendayu, penyanyi merayu dengan intonasinya, mengajak penonton terenyuh.

Terkadang cinta lahir bukan dari jalan semestinya tapi terkadang dari lorong jiwa kesepian. (Ucien Netatopo / Kak Gun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *