Ketika Tanduk Menjadi Senjata bagi Diri Sendiri, Bimaz Menghadirkan Metafora Kehancuran dalam Sebuah Kanvas

Seputar Sulteng172 Dilihat

Media Suara Palu, PALU – Apa yang seharusnya menjadi pelindung, terkadang justru menjelma menjadi ancaman paling mematikan. Begitulah pesan getir yang hendak disampaikan Bimaz melalui sebuah karya lukis yang dipresentasikan dalam rangkaian perayaan 26 tahun Sanggar Seni Bahana, di Islamic Center Palu, Sabtu (7/11/2026).

Di atas kanvas berwarna cokelat, seekor satwa digambarkan dalam balutan warna putih, dengan tanduk melingkar berwarna kuning. Sebuah visual yang sekilas tampak sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan filosofis tentang manusia, ego, dan kehancuran yang kerap tumbuh dari dalam dirinya sendiri.

Bimaz mengambil fenomena biologis pada domba atau kambing jantan sebagai titik berangkat penciptaannya. Pada kondisi tertentu, pertumbuhan tanduk yang tidak normal dapat mengarah ke bagian tubuh sendiri, bahkan melukai kepala, mata, hingga leher. Organ yang semestinya menjadi alat pertahanan justru berubah menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup pemiliknya.

Dari fenomena alam itulah, Bimaz membangun sebuah perumpamaan tentang self-sabotage, kecenderungan manusia menghancurkan dirinya sendiri.

Jika pada satwa tanduk menjadi ancaman fisik, pada manusia tanduk itu dapat hadir dalam rupa ego yang menjulang, emosi yang tak terkendali, pikiran yang membatu, serta ambisi yang kehilangan batas.

Manusia sering kali sibuk mencari musuh di luar dirinya. Padahal, tanpa disadari, ada sesuatu di dalam diri yang perlahan menggerogoti kewarasan, merusak hubungan, bahkan menjatuhkan kehidupan yang telah dibangun dengan susah payah.

Di sinilah kekuatan pesan karya Bimaz. Ia tidak sedang semata-mata melukiskan seekor satwa, tetapi sedang mengajak penikmat seni menengok ke dalam dirinya sendiri.

Kanvas itu seolah menjadi ruang perenungan: berapa banyak kehancuran yang sesungguhnya bukan disebabkan oleh serangan dari luar, melainkan oleh sesuatu yang kita pelihara sendiri?

Ego yang semula dianggap sebagai harga diri, ambisi yang awalnya menjadi bahan bakar perjuangan, serta keyakinan yang seharusnya menjadi pegangan, dapat berubah menjadi senjata yang melukai pemiliknya ketika tak lagi mampu dikendalikan.

Karya ini pun menghadirkan ironi kehidupan yang sunyi. Bahwa tidak semua yang tumbuh dalam diri harus dipertahankan, tidak semua yang dianggap kekuatan selalu membawa keselamatan.

Melalui simbol tanduk yang berbalik mengancam pemiliknya, Bimaz menghadirkan sebuah peringatan visual tentang pentingnya mengenali batas diri dan menjinakkan tabiat yang berpotensi menghancurkan.

Pada akhirnya, lukisan ini tidak menawarkan jawaban, melainkan meninggalkan pertanyaan yang mungkin lebih sulit dijawab: sudahkah manusia mampu mengalahkan dirinya sendiri sebelum dirinya sendiri menjadi penyebab kehancurannya?

Sebab, terkadang, musuh paling berbahaya tidak datang membawa senjata dari luar. Ia tumbuh bersama kita, bersemayam dalam pikiran, menguat dalam ego, dan diam-diam menunggu saat untuk berbalik menyerang.

Sebuah refleksi tentang manusia, yang melalui tangan Bimaz, menemukan suaranya di atas kanvas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *