Difabel Bangkit Menjemput Mimpi di Parigi

Seputar Sulteng401 Dilihat

Media Suara Palu — Haru, senyum penuh harapan, dan tekad yang tak tergoyahkan menyatu dalam Sosialisasi dan Edukasi Penyandang Disabilitas yang digelar Rumah Merah Putih Difabel Berkarya Kota Palu di Kantor Camat Parigi, Senin 15 Desember 2025.

Sebanyak 51 penyandang disabilitas, dari anak-anak hingga dewasa, hadir bersama orang tua pendamping. Mereka datang bukan sekadar mendengar materi, tetapi membawa luka, pengalaman diskriminasi, dan harapan akan masa depan yang lebih manusiawi.

Turut hadir dalam kegiatan ini unsur Kesejahteraan Sosial Kecamatan, Kepala Seksi Pembangunan Kecamatan, serta Kasie Kesra kelurahan dan desa.

Di hadapan peserta, Dewi Santiana, penyandang disabilitas sekaligus narasumber dari Rumah Merah Putih Difabel Berkarya Kota Palu, menyampaikan kisah hidup yang membuat ruangan hening.

Ia berbicara tentang penolakan, tentang rasa dianggap tidak mampu, bahkan oleh keluarga sendiri.

 “Kami pernah disembunyikan, dianggap beban, dan tidak diberi kesempatan. Tapi kami memilih keluar dari zona nyaman, keluar dari daerah, untuk mencari potensi agar kami bisa mandiri, bekerja, sekolah, bahkan kuliah demi mengejar mimpi,” ucap Dewi dengan suara bergetar.

Rumah Merah Putih Difabel Berkarya Kota Palu sendiri menjadi tempat pulang bagi 15 penyandang disabilitas dari berbagai wilayah Sulawesi Tengah, seperti Pantai Timur, Pantai Barat, Sigi, dan Kota Palu. Beralamat di Jalan Jati, Kelurahan Nunu, Kecamatan Tatanga, rumah ini menjadi ruang aman untuk belajar, berkarya, dan memulihkan kepercayaan diri.

Dengan mata berkaca-kaca, Dewi menyampaikan pesan yang menyentuh relung hati para peserta.

“Beranilah melangkah walau tak punya kaki, beranilah melihat dunia walau tak punya mata, beranilah mendengar kehidupan walau tak punya telinga. Keterbatasan bukan alasan untuk menyerah,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh kondisi fisik, melainkan keberanian untuk percaya pada diri sendiri.

 “Semua berawal dari diri kita. Jika kita ingin mengubah hidup, ingin sukses, maka keyakinan itu harus lahir dari dalam diri kita sendiri,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, Dewi dan Rumah Merah Putih berharap tidak ada lagi penyandang disabilitas yang disembunyikan, ditolak, atau dipinggirkan.

Mereka meminta pemerintah daerah di Sulawesi Tengah membuka ruang seluas-luasnya agar penyandang disabilitas mengenal hak-haknya untuk sekolah, bekerja, berkarya, dan berkontribusi bagi daerah.

Pesan itu menggema kuat di ruangan: berikan kepercayaan, berikan ruang, dan berikan kesempatan. Karena penyandang disabilitas bukan objek belas kasihan, melainkan manusia yang mampu berdiri tegak, mandiri, kuat, dan tangguh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *