Kehilangan Mata, Keluarga Pelajar Morut Bingung Tagihan Rp42 Juta

Seputar Sulteng329 Dilihat

Media Suara Palu, MOROWALI UTARA – Di tengah upaya menerima kenyataan pahit kehilangan mata kanan, keluarga seorang pelajar asal Desa Korompeli, Kecamatan Lembo, Morowali Utara, justru dihadapkan pada persoalan biaya pengobatan yang mencapai sekitar Rp42 juta.

Pelajar berinisial A, siswi kelas III SMK, harus kehilangan mata kanannya setelah terkena proyektil senapan angin saat bermain bersama rekannya. Senapan yang semula dianggap tidak memiliki peluru ternyata masih mampu melontarkan proyektil dan mengenai bagian mata korban.

Kondisinya kemudian mengharuskan A menjalani perawatan hingga operasi pengangkatan mata kanan di RSUD Wahidin Sudirohusodo Makassar.

Perjalanan keluarga untuk mendapatkan pengobatan juga tidak mudah. Dalam proses pengurusan, keluarga diminta melengkapi kronologis kejadian untuk kebutuhan BPJS Kesehatan. Mereka kemudian berkoordinasi dengan Polsek Lembo dan diarahkan ke SPKT Polres Morowali Utara hingga akhirnya memperoleh dokumen kronologis dari kepolisian.

Namun, persoalan baru muncul ketika keluarga hendak membawa A pulang setelah menjalani operasi.

Keluarga mengaku diberitahukan adanya kewajiban pembayaran dengan rincian sementara sekitar Rp42 juta. Mereka diberi waktu hingga Jumat, 14 Agustus 2026, untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Kondisi itu membuat keluarga kebingungan. Sebab, sebelumnya A dirujuk dari Morowali Utara menggunakan ambulans rujukan dan didampingi perawat dari RSUD Kolonodale. Keluarga juga mengaku mendapat informasi bahwa biaya pengobatan akan ditanggung BPJS Kesehatan.

Mastin Lamato, tante korban yang mendampingi A di Makassar, mengaku tidak tahu harus mencari biaya sebesar itu ke mana.

«“Sebenarnya keluar hari ini, tapi kendala soal pembayarannya yang kami harap ditanggung BPJS, tapi pada kenyataannya tidak seperti itu. Rincian sementara sekitar Rp42 juta,” ujar Mastin, Kamis (13/8/2026).»

Menurutnya, keluarga datang ke Makassar melalui proses rujukan resmi dari Morowali Utara.

«“Kami diantar ambulans rujukan dari Morowali Utara dan juga didampingi sama suster pendamping. Disampaikan ke kami ditanggung BPJS Kesehatan,” katanya.»

Bagi keluarga, persoalan tersebut terasa semakin berat. Di satu sisi mereka harus menerima kenyataan bahwa A, yang masih duduk di bangku sekolah, kini harus menjalani hidup tanpa mata kanannya. Di sisi lain, mereka harus menghadapi tagihan puluhan juta rupiah.

Keluarga pun berharap pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dapat membantu mencarikan solusi.

«“Kalau bisa bantu dulu kami, Pak. Sampaikan ke Pak Gubernur Sulteng dan Pak Bupati Morowali Utara. Kami diberikan waktu sampai besok. Kami punya kemenakan sudah kehilangan mata, sekarang kami menghadapi pergumulan, di mana mau ambil uang sebanyak itu. Kalau kami tahu begini, kami tidak akan operasi,” ungkap Mastin.»

Sementara itu, orang tua dari pelaku yang sebelumnya telah sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan juga disebut tengah berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak RSUD Kolonodale.

Mereka mengaku masih bingung dengan proses rujukan yang diberikan sebelumnya, terlebih adanya informasi kepada keluarga korban bahwa pengobatan akan ditanggung BPJS Kesehatan.

Kasus ini juga menjadi pengingat bagi para orang tua untuk lebih mengawasi anak-anak ketika bermain, terutama ketika berhadapan dengan benda yang berpotensi membahayakan keselamatan.

Bagi keluarga A, kehilangan mata kanan bukan sekadar akibat dari sebuah kecelakaan. Itu adalah perubahan besar yang harus dijalani seorang anak sepanjang hidupnya.

Kini, keluarga hanya berharap setelah kehilangan penglihatan, mereka tidak harus kehilangan harapan karena persoalan biaya.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak RSUD Kolonodale terkait persoalan pembiayaan pengobatan korban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *