Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Muhammad Safri Tegaskan Komitmen Kawal Keadilan Ekologis di Sulteng

Seputar Sulteng144 Dilihat

Media Suara Palu, PALU – Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) DPRD Sulawesi Tengah, Muhammad Safri, mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemangku kebijakan untuk menjadikan momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026 sebagai titik balik memperkuat komitmen dan aksi nyata.

Menurutnya, peringatan Hari Lingkungan Hidup tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan semata, melainkan harus menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dan aksi nyata dalam mengatasi perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, serta pencemaran lingkungan yang terus mengancam keberlanjutan kehidupan.

“Perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi merupakan tantangan nyata yang sedang kita hadapi. Ini membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat, melalui langkah-langkah konkret yang berkelanjutan,” kata Safri dalam rilisnya, Jumat (5/6/2026).

Safri menegaskan, pembangunan ekonomi harus berjalan seiring dengan upaya perlindungan lingkungan agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh generasi saat ini maupun generasi mendatang.

Sekretaris Komisi III itu menyoroti kondisi Sulawesi Tengah yang saat ini mengalami ekspansi industri ekstraktif secara masif, terutama sektor pertambangan nikel. Sebagai salah satu daerah penghasil nikel terbesar di Indonesia, Sulteng menghadapi berbagai tantangan yang perlu mendapat perhatian serius.

Di satu sisi, industri nikel memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan membuka lapangan kerja. Namun di sisi lain, ekspansi industri tersebut juga berpotensi memunculkan berbagai persoalan lingkungan, mulai dari kerusakan hutan, pencemaran sumber air, degradasi ekosistem, hingga ancaman terhadap kehidupan sosial masyarakat di sekitar kawasan industri dan pertambangan.

“Sulawesi Tengah saat ini berada dalam situasi yang paradoks. Kita memperoleh manfaat ekonomi dari investasi dan industri ekstraktif, tetapi pada saat yang sama menghadapi risiko kerusakan lingkungan dan persoalan sosial yang tidak boleh diabaikan,” bebernya.

Karena itu, Safri mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat pengawasan terhadap aktivitas industri, memastikan kepatuhan perusahaan terhadap regulasi lingkungan, serta menjamin pemulihan ekosistem yang terdampak kegiatan pertambangan.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan Hari Lingkungan Hidup Sedunia sebagai momentum memperkuat kesadaran kolektif dalam menjaga alam dan sumber daya yang dimiliki Sulawesi Tengah.

“Lingkungan yang sehat adalah fondasi pembangunan yang berkelanjutan. Mari kita jadikan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini sebagai momentum memperkuat kolaborasi dan aksi nyata untuk menjaga bumi, melindungi sumber daya alam, serta mewariskan lingkungan yang lebih baik kepada generasi mendatang,” tutup Safri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *