Media Suara Palu, PALU, Media Suara Palu – Mantan Gubernur Sulawesi Tengah sekaligus pelaku sepak bola daerah, H. Rusdy Mastura, menyampaikan sejumlah harapan besar terhadap masa depan sepak bola Sulawesi Tengah menjelang Kongres Luar Biasa (KLB) Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Sulawesi Tengah di Hotel Santika Palu, Minggu (8/11/2026).
Di tengah menguatnya peluang Abcandra Muhamad Akbar Supratman sebagai calon tunggal Ketua Umum Asprov PSSI Sulteng periode 2026–2030, Rusdy mengingatkan bahwa kepemimpinan baru harus mampu menjawab persoalan mendasar sepak bola daerah, terutama pembinaan pemain usia muda, keberlanjutan kompetisi, dan pengembalian kejayaan klub-klub perserikatan.
Menurut Rusdy, Sulawesi Tengah sesungguhnya tidak pernah kekurangan talenta sepak bola. Persoalannya justru terletak pada bagaimana potensi tersebut dikelola, dibina, dan diberikan kesempatan berkembang melalui sistem yang terarah.
Ia berharap pembinaan pemain junior tidak lagi dilakukan secara sporadis, apalagi hanya berorientasi pada keberangkatan mengikuti turnamen atau kepentingan mencari keuntungan sesaat.
Baginya, pembinaan harus memiliki arah yang jelas. Pemain muda perlu dipersiapkan melalui kompetisi berjenjang, pendampingan yang konsisten, serta kesempatan yang adil bagi mereka yang benar-benar memiliki kemampuan.
Rusdy juga menyoroti pentingnya menghidupkan kembali sistem kompetisi perserikatan. Ia menjelaskan, Divisi 4 diharapkan menjadi ruang perputaran kompetisi perserikatan sebelum berlanjut ke Piala Gubernur atau Piala PSSI, hingga kompetisi tingkat nasional.
Dalam kerangka itu, ia berharap kesebelasan perserikatan dapat kembali menemukan performa terbaik sebagaimana masa kejayaannya dahulu.
Menurutnya, geliat turnamen sepak bola di kabupaten dan kota sepanjang setahun terakhir sudah menunjukkan perkembangan positif. Termasuk turnamen yang mendapat perhatian dan dukungan Gubernur Sulawesi Tengah.
Namun, geliat kompetisi tersebut harus ditindaklanjuti dengan pembinaan berkesinambungan. Jangan sampai turnamen hanya menjadi agenda sesaat yang selesai ketika trofi diserahkan, sementara pemain-pemain potensial kehilangan jalur pengembangan.
Akbar dan ujian kepemimpinan sepak bola daerah
Secara khusus, Rusdy menyampaikan harapan kepada Akbar Supratman agar kepeduliannya terhadap sepak bola, terutama pemain junior, dapat terus dipertahankan dan diperluas.
Ia menilai Akbar telah menunjukkan perhatian nyata melalui dukungan terhadap keberangkatan pemain-pemain muda Sulawesi Tengah ke Singapura maupun sejumlah daerah lain untuk mendapatkan pengalaman bertanding.
Bagi Rusdy, kepedulian semacam itu penting karena pemain muda tidak cukup hanya memiliki bakat. Mereka membutuhkan akses, pengalaman, pembinaan, dan kesempatan untuk mengukur kemampuan di luar daerah.
Harapan tersebut menjadi relevan dengan situasi menjelang KLB Asprov PSSI Sulteng. Akbar menjadi satu-satunya calon yang mengembalikan berkas pencalonan secara lengkap hingga batas waktu yang ditentukan Komite Pemilihan.
Sebelumnya, Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid juga sempat masuk dalam penjaringan dengan mengambil formulir pendaftaran. Namun, hingga penutupan pendaftaran, berkas pencalonannya tidak dikembalikan sehingga tidak berlanjut ke tahapan pencalonan.
Akbar sendiri membawa dukungan 18 dari total 22 pemilik suara, terdiri atas 12 Askab/Askot, dua asosiasi sepak bola, dan empat klub anggota Asprov PSSI Sulteng. Dukungan tersebut memperlihatkan besarnya kepercayaan organisasi sepak bola daerah terhadap pencalonannya.
Namun, besarnya dukungan politik organisasi tersebut juga menghadirkan tanggung jawab yang tidak kecil. Kepemimpinan PSSI tidak cukup diukur dari kemampuan menghimpun dukungan dalam kongres, melainkan dari keberhasilannya membangun tata kelola, kompetisi, dan pembinaan yang dirasakan hingga tingkat akar rumput.
Sulawesi Tengah tidak kekurangan talenta
Rusdy mengingatkan bahwa Sulawesi Tengah memiliki sejarah panjang dalam melahirkan pemain sepak bola berkualitas.
Ia menyebut sejumlah nama dari generasi terdahulu hingga generasi berikutnya, seperti Erwin, Dula Wahid sebagai bagian dari perjalanan panjang kontribusi pemain asal Sulawesi Tengah dalam sepak bola nasional, bersama pemain-pemain dari Makassar.
Ia juga menggambarkan karakter permainan pemain Palu dengan perbandingan yang menarik. Menurutnya, ada karakter permainan yang mengingatkan pada Barcelona: meskipun terlihat bermain dengan gaya yang seolah asal jadi, sesungguhnya tersimpan kualitas dan kemampuan teknis yang baik.
Gambaran itu menjadi penegasan bahwa talenta lokal tidak boleh dipandang sebelah mata. Potensi tersebut hanya membutuhkan sistem pembinaan yang mampu mengasah dan mengarahkannya.
Pada akhirnya, pesan Rusdy menjelang KLB bukan semata-mata tentang siapa yang akan menduduki kursi Ketua Umum PSSI Sulteng. Lebih dari itu, ia sedang mengingatkan bahwa sepak bola daerah membutuhkan kesinambungan, keberanian membangun sistem, dan kepedulian terhadap generasi berikutnya.
Jika Akbar dipercaya memimpin Asprov PSSI Sulteng periode 2026–2030, tantangan sesungguhnya adalah menerjemahkan dukungan 18 pemilik suara menjadi kerja nyata: menghidupkan perserikatan, memperkuat kompetisi, menemukan talenta hingga ke pelosok kabupaten, dan mengembalikan kebanggaan masyarakat terhadap sepak bola Sulawesi Tengah.
Sebab, kejayaan sepak bola tidak lahir dari kongres semata. Ia tumbuh dari lapangan-lapangan kecil, dari anak-anak yang berlatih, dan dari sistem yang tidak membiarkan bakat mereka berhenti di tengah jalan.
Hingga berita ini ini tayang, kongres masih sedang berlangsung dan dijadwalkan pukul 11.00 sudah akan selesai.













